Skip to content

Kategori: Retrospektif

Interferensi

Sekitar tahun 2012 aku pernah semacam sambat pada teman, bahwasanya aku pengen punya semacam “partner in crime”. Pengen ngapa-ngapain kok ya sendiri, gak ada yang memvalidasi, gak ada yang mengarahkan. Oh, bukan, saya bukan minta adanya orang yang mau saya suruh-suruh. Hanya sekedar temen buat brainstroming.

Ndilalah, temen akrab saya kok ya beda frekuensi. Berusaha menyamakan, tapi kok ya cape juga. Semacam perlu menaikan daya agar jangkauan agak luas. Berusaha pansos di beberapa kanal, supaya pengen diajak ngobrol saja. Walau saya tau, bakalan planga-plongo, tapi kalo diajak, setidaknya ada cangkir yang terisi gitu lho.

Tapi saya sadar, mungkin saya bukan orang yang mempunya frekuensi yang mudah dipahami, mudah dimengerti. Mungkin yang lain sudah digital, saya masih analog. Semakin hari, semakin saya tidak ada kesempatan buat kenal. Karena ya, orang-orang akan cenderung tetap di frekuensi mereka masing-masing.

Ya Allah, saya ndak pengen gini terus. Hidup cuman asal hidup. Mengalir mengikuti arus tanpa tau di hilir seperti apa. Sudah lelah rasanya, goblok terus. Sudah lelah rasanya, diam terus.

Hambok saya diajak ngobrol.

33 Rupa

33 rupa telah terwujud, pintaku tidak banyak. Tapi salah satunya adalah mendapatkan ucapan dari kalian, yang mengaku dekat denganku.

Eh, apa hanya aku yang merasa dekat dengan kalian?

Apa yang kita banggakan?

Kenapa sih kita merasa apa yang kita dapatkan itu adalah kerja keras kita?

Kita punya anak, kita bangga.
Kita punya kedudukan, kita bangga.
Kita punya rumah, kita bangga.
Kita punya kendaraan, kita bangga.

Sadarkah kita, kerja keras kita hanya sebuah katalis?

Namun, sadarkah kita
Jika semua yang kita miliki akan hilang dalam satu hembusan angin dingin?

Lalu, kenapa kita harus pamer dan banggakan?
Lalu, kenapa kita harus menyakiti hati orang lain yang belum mendapatkannya?