Bersyukur

Ini yang sering aku lupa atau lalai. Bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini. Kesehatan, kehidupan yang baik, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang layak, makanan yang sehat, agama yang aku anut dan yang lainnya. Kenapa aku mendadak nulis kayak gini? Sebenernya udah lama pengen nulis kayak gini. Aku ingin bercerita tentang harus bersyukur terutama terhadap pekerjaan yang dimiliki.

Aku adalah seorang software developer di sebuah Internet Payment Gateway. Perusahaan tempat aku bekerja, saat ini memang butuh banyak tenaga kerja baru efek dari ekspansi yang sedang kami lakukan. Biasanya, kita mencari pegawai dari mulut ke mulut yang artinya “lu lagi lu lagi” saat interview. Akhirnya, kami mengikuti Job Fair yang dilakukan di kampus-kampus terkemuka. Seharusnya HR yang mengikuti acara ini, namun berhubung banyak posisi teknis yang dibuka, maka saya pun mengikuti acara ini.

Seumur hidup, saya baru datang ke acara seperti ini. Acara yang pertama kali saya ikuti adalah acara di UGM. Di sana saya melihat antrian panjang pembelian tiket oleh orang-orang yang hendak masuk ke acara ini. Di dalam gedung? Lebih sumpek lagi. Banyak yang masuk ke booth sekedar bertanya, “Aku lulusan ini, ada gak posisi kayak gini di perusahaan Bapak?” atau “Kira-kira saya bisa apply ke perusahaan Bapak, tapi CV saya tidak lengkap?”. Awalnya saya berfikir, “Ah, ini mah nyasar. Saya mending referensikan ke perusahaan induk saja.”. Namun, ternyata makin banyak yang bertanya seperti itu. Makin lama saya makin berfikir “Duh, andai saja perusahaan saya bekerja menerima lowongan seperti itu.”. Ada juga yang bertanya “apakah ada batasan umur?”. Ada yang menampakan wajah penuh kelegaan saat saya bilang, “sebenarnya di perusahaan kami tidak mengenal batasan umur”. Gimana? Hanya kalimat seperti itu mereka bisa lega?

Ada juga yang bertanya “Apakah baru lulus bisa mendaftar?”, “Apakah IPK sekian bisa mendaftar?”. Makin lama pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya merasa ditampar. Saya selama ini dengan mudah menerima pekerjaan. Saya selama ini tidak pernah menggunakan ijazah sebagai referensi, tinggal melamar lalu diterima. Saya juga bukan termasuk orang yang sangat jago dalam bidang saya. Saya tidak pernah datang ke acara career day atau cari lowongan di koran. Lalu, kenapa saya tidak bersyukur? Kenapa saya tidak bekerja dengan baik? Padahal banyak orang yang susah payah mencari sepotong harapan. Berharap mereka bisa mendapat pekerjaan yang layak.

Lalu, kenapa saya masih juga tidak bisa bersyukur? Astagfirullah.

 

NB: Maaf, saya sering berganti menggunakan “aku” dan “saya”. :P

Oya, saya benci stigma “ah, jadi karyawan sih, mangkanya jadi pengusaha”.

Menunggu Orang Yang Akan Menunggu

Gimana sih sikap kalian saat jauh dengan orang yang kalian cintai? Memberi kabar atau gimana gitu? Aku punya kebiasaan buruk yaitu jarang ngabarin kalo lagi jauh. Jangan ke pacar, ke orang tua aja jarang. Gak kangen? Kangen sih. Tapi gak tau kenapa sering kepikiran tentang mereka, tapi “ntar aja” dalam ngasih kabar.

Pada dasarnya, aku ini anak rumahan. Waktu aku kecil, aku sering dilarang pergi jauh. Bahkan saat akan kuliah aja, gak boleh kuliah di luar Bandung. Asalnya mau milih Jogja yang ada keluarga juga di sana, tapi tetep aja gak boleh. Alhasil, aku suka males kalo mesti keluar rumah. Lalu, apa hubungannya sama ngabarin orang rumah?

Entah, tapi saat sedang berada jauh. Aku suka gak sadar kalo aku lagi jauh. Rasanya, mereka itu ada dekat dengan aku. Yang aku pikir, “Aku baik-baik saja”. Justru aku akan ngabarin kalo sesuatu lagi gak beres.

Akibat sikap ini yaaaa… Pacar selalu ngambek karena gak dikabarin. Ortu? Jangan tanya deh. :)

Yang aku yakini saat ini, aku baik-baik saja karena ada orang-orang yang sangat khawatir dengan keadaan ku. :)

Next Project?

Entah kenapa, sekarang saya cuman sibuk dengan urusan kantor. Kalo gini terus, kurang berkembang juga jadinya. Mestinya harus sering mengasah ilmu terus. Menjelajah hal-hal baru seperti saat kuliah dulu. Syukur-syukur bila bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari situ. Ya, yang penting terus berkreasi saja.

Rencana berikutnya? Saya ingin membuat blog buat belajar coding kayak mkyong gitu. Agak gila memang, wong nulis blog biasa saja susahnya minta ampun, apalagi nulis yang agak teknis. Tapi ya, lebih baik mencoba saja. Gak tau kan apa yang nanti terjadi.

Yang penting semangat. :)

Acakan Malam Ini

Entah kenapa, hari ini banyak hal yang sangat acak yang terlintas di pikiran. Dari ingin renang, ingin bersepeda ke kantor, nonton marathon film, balesin email tengah malem (wait, ini udah biasa) sampe baca-baca posting blog lama. Merasa takjub, karena pertama punya blog itu Oktober 2004. Lebih takjubnya lagi, ternyata dari dulu ampe sekarang gak bisa nulis panjang. Suasana kantor yang semakin sepi yang membuat saya mengeluarkan bakat terpendam berupa procrastination terutama setelah beberapa ekor anak intern sudah selesai bertugas semua. Kantor semakin saja sepi dan membuat pikiran saya berkelana ke segala penjuru.

Hoam, tiba-tiba kantuk menyerang saat akan menulis paragraf kedua.

Musibah Sebelum Pemilu

Musibah sebelum pemilu, ya saya kasih judul tulisan blog kali ini seperti itu. Kenapa? Hanya muak dengan yang sedang beredar saat ini. Negeri ini sedang mencari pemimpin yang sanggup mengubah bangsa untuk 5 tahun ke depan. Tapi apa yang sedang terjadi? Lebih nampak mencari keburukan orang lain untuk memantaskan diri.

Para pendukung saling menghina, melontarkan fitnah, apapun cara yang digunakan agar orang lain menjadi lebih buruk. Apa manfaatnya? Sampai saat ini saya tidak bisa mendapatkan suatu faedah atas tindakan mereka. Alih-alih mendapatkan debat yang sehat, saya justru mendapat sampah, bisa saya katakan lebih sampah daripada tayangan sinetron. Apakah mereka tidak berfikir bila tindakan mereka hanya memecah belah persatuan negeri ini. Apakah Tuhan juga akan merestui capres yang kelak memimpin atas dasar terpilih karena caci-maki?

Siapa yang saya pilih, sejujurnya saya belum punya pilihan saat ini. Tapi semakin hari, semakin jelas pilihan saya. Saya pilih capres yang paling banyak pendukungnya yang mencaci capres lain. Saya pilih capres yang paling banyak pendukungnya fitnah capres lain. Saya pilih dia untuk tidak saya pilih.

Semoga pendukung kedua capres ini sadar, tidak ada manfaat sama sekali dengan caci-maki atau fitnah yang justru mendatangkan bencana lain terhadap negari ini. Negeri ini butuh solusi.

Mainan Baru

Mungkin telat sih, karena teman-teman yang lain udah belajar dan memakai Ruby/Rails dari dulu. Aku masih berkutat di Java atau PHP. Well, karena gak ada kerjaan yang menuntut aku untuk bisa itu. Ilmu di Java atau PHP saja masih pas-pasan masa mau ngulik hal yang lain. Kayak ngupas bawang, luarnya doang yang paham. Dalemnya malah gak paham.

Well…

Sekarang mah gak peduli deh cuman tau luarnya doang, asal bisa membantu dalam pekerjaan. Ilmu baru harus ada setiap hari, daripada stuck sama hal yang sama. Mending belajar hal baru, gak ada ruginya. Mungkin ini efek kerja di kantor sekarang. Lebih banyak berinteraksi sama orang lain. Orang-orang yang jauh lebih berpengalaman dan dari yang benar-benar beda bahasa pemograman.

I must learn as much as I can do!