PIH

Baru pertama kali ke sini setelah beberapa tahun dibangun. PIH ini dikelola oleh pemda. Sangat kentara jika melihat keadaan di sekeliling bangunan. Apa adanya, kurang terawat. Awalnya saya agak ragu untuk makan di sini karena kondisi-kondisi tersebut.

Di sini, ternyata sebelum memesan makanan, kita terlebih dahulu harus memilih ikan di kolam penampungan. Tapi untuk beberapa jenis ikan laut, tersedia sudah di dalam freezer. Oke, dari sini berarti saya akan memesan ikan yang masih segar.

Setelah memilih ikan, saya beranjak ke restoran yang berada di lantai 2. Di sana saya tinggal duduk menunggu masakan datang. Keadaan di restoran sangat sepi. Hanya ada keluarga saya di sana, padahal ruangan restoran tersebut sangat besar. Ruangan tersebut bisa menampung sekitar 50 hingga 75 orang.

Tak lama, masakan datang. Untuk masakannya sendiri tidaklah buruk. Tapi sayang, tidak ada rasa yang khas yang bisa membuat saya kangen masakan si sana. Oh ya, setelah membayar makanan, harga totalnya pun tidak terlalu mahal. Istilahnya masih bernilai untuk rasa yang diberikan. – at Pasar Ikan Higienis (PIH)

See on Path

Terlalu lempeng?

Lempeng itu dibaca lempeng, bukan dibaca lempeng.

Ya mungkin gitulah apa yang ku rasa saat ini. Kenapa? gampangnya gini, aku banyak ikut grup chat. Baik di Yahoo Messenger, mIRC, Whatsapp, Telegram atau Line. Banyak yang curhat atau gak sengaja curhat tentang yang mereka alami. Reaksi ku? “Wow!!! Gw belum pernah kayak gitu”. Reaksi seperti itu sangat sering banget nget nget kejadian.

Atau gini deh, aku sering blogwalking dan sering “kok bisa sih kepikiran buat nulis kayak gitu?”. Aku mau nulis blog tentang yang aku alami aja susah byanget. Ya, lalu aku tarik kesimpulan, orang-orang bisa nulis kayak gitu karena mereka udah ngalami itu, baik secara langsung maupun gak langsung.

Padahal, umurku udah hampir kepala 3, kok ya pengalamanku masih cetek banget. Mau pengalaman profesi aku, atau pengalaman kehidupan aku. Tapi ya, aku juga gak mau cari perkara demi biar bisa dibilang “berpengalaman”.

Tapi mungkin ini salah satu rejeki buat aku, kehidupan yang lempeng, kehidupan yang selo. Eh, ini selo ya bacanya, bukan selo.

Sugeng Kondur, Mid

avahmd

Iki ki mah dha ngapa?

Mungkin itu kalimat yang akan kamu ucapkan melihat tingkah polah teman-temanmu. Teman-teman yang kehilanganmu. Teman-teman yang kehilangan keceriaanmu. Keceriaanmu yang kita tahu bila sebenarnya Hamid sedang tidak seceria itu. Tapi setidaknya, Hamid membuat orang lain ceria.

Kehilangan Hamid yang gemar memberikan nasehat. Hamid yang gemar mempertemukan orang hebat dengan orang hebat yang lainnya agar menjadi lebih hebat. Hamid yang gemar berbagi ide.

Tapi yang aku pribadi, kehilangan sosok Hamid yang sederhana dan menyenangkan.
Selamat jalan Hamid, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah. Dilapangkan kuburmu. Diampuni dosa-dosamu.

There is two ways a man can be rich. He can be alot of money or friends.

Sudah cukup jelas™, Hamid memilih yang nomer dua.
Sudah cukup jelas™, Hamid juga membuktikan bila dikenal dan terkenal itu berbeda jauh. Hamid yang tidak terkenal tapi dikenal banyak orang.

 

Booting to OSX from GRUB2

Last month, I try to install Fedora 21 on MacBook Air machine. It’s pretty easy. Just resize OSX partition, give it a empty partition. Boot to USB drive that I made before with Fedora’s LiveUSB Creator. The rest, just follow the instruction from installer.

But the problem is GRUB2 cannot boot to OSX. So, if I want to boot to OSX, I need to hold down option-key and choose OSX partition at boot time. I set Fedora 21 partition as default partition to boot. I also don’t use tools like rEFInd or rEFIt.

But, after hours of Googling, there is a way to boot to OSX from GRUB2. In /etc/grub.d/40_custom, I need to add some line like:

menuentry "MacOS X" {
insmod hfsplus
set root=(hd1,gpt2)
chainloader /System/Library/CoreServices/boot.efi
boot
}

After that, I should re-create grub configuration with command:
sudo grub2-mkconfig -o /boot/efi/EFI/fedora/grub.cfg.

Once done, I could boot to OSX from GRUB2.