Sedang Apa Kamu?

Apa yang sedang aku lakukan?
Kenapa aku menapaki lagi jalan yang gelap?
Menapaki jalan yang terjal, penuh ketidakpastian?

Sekarang, jiwaku tertimbun jutaan gunung yang kelam.
Sesak

Sekarang, sukmaku dikoyak oleh asaku sendiri.
Perih

Apa yang sedang aku lakukan?
Tidak bisakah aku menggenggam butiran pasir putih?
Namun aku tetap memilih untuk menggenggam bara?

Sudah, sudahi

Sebelum semua terlambat, walau lembaran kertas sudah kumal dan lusuh.
Tapi terus berharap, agar Allah memberikan lembaran kertas yang baru.

Agar kisahku, tetap bisa aku tuliskan dengan baik.

Apakabar Dunia?

Apakabar dunia?

Setahun lebih gak update blog. Ya saya hanya mengikuti arus deras saja, rata-rata kan pada males update. Jadi ya saya juga malas. Hehehe

Apa yang sudah terjadi satu tahun ke belakang? Well, saya masih absurd seperti biasanya. Masih butuh temen ngobrol, masih butuh hobi, masih butuh banyak belajar.

Oh ya, tentang hobi, nampaknya beberapa bulan ke depan bakal lebih sering beli sparepart Tamiya daripada sparepart motor yang sebenernya lebih banyak dipake ngantor. Tapi ya gimana lagi, udah kadung gandrung.

Setahun terakhir, banyak hal awesome, naik-turun dan banyak dosa yang telah diperbuat. Nampaknya, hidup saya memang tidak serata papan catur. Banyak hal yang saya tidak bisa ceritakan pada siapapun. Ya, pada dasarnya memang jarang cerita tentang apa yang dirasa ke orang lain saja.

Oh ya, beberapa hari yang lalu saya berulang tahun dan mendapatkan beberapa kejutan. Kejutan terbesar saya adalah saat ini sudah berkepala 3. Sial, setengah jatah normal adalah hal sia-sia belaka.

Satu lagi, saat ini sedang menunggu sebuah keajaiban… Ah, sudahlah Burhan~

Long Lost Thing

Sesuatu ada yang salah, sesuatu ada yang hilang. Sebuah kalimat ini yang menghantui saya akhir-akhir ini. Betapa tidak, apa yang saya lakukan saat ini sepertinya ada yang tidak sesuai dengan kebiasaan saya. Entah, apa itu. Buat saya ini berbahaya, namun saya masih belum bisa mengidentifikasi masalahnya.

Dimulai dengan kebiasaan bangun pagi yang agak rusak, konsentrasi pada pekerjaan saya yang turun. Mood yang sering naik turun. Hingga saya juga sering menunda pulang kantor karena banyak pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.

Hari ini kebetulan cuti, lebih tepatnya salah ambil waktu cuti. Tapi biarlah, saya coba manfaatkan hari ini untuk “Me Time”. Paling ke toko buku, makan di tempat makan favorit, cari mainan buat anak. Ke toko elektronik. Mungkin saya hanya dilanda kebosanan yang teramat sangat. Terlalu berpola.

Semoga hari ini bisa terinspirasi buat punya hobi baru.

PIH

Baru pertama kali ke sini setelah beberapa tahun dibangun. PIH ini dikelola oleh pemda. Sangat kentara jika melihat keadaan di sekeliling bangunan. Apa adanya, kurang terawat. Awalnya saya agak ragu untuk makan di sini karena kondisi-kondisi tersebut.

Di sini, ternyata sebelum memesan makanan, kita terlebih dahulu harus memilih ikan di kolam penampungan. Tapi untuk beberapa jenis ikan laut, tersedia sudah di dalam freezer. Oke, dari sini berarti saya akan memesan ikan yang masih segar.

Setelah memilih ikan, saya beranjak ke restoran yang berada di lantai 2. Di sana saya tinggal duduk menunggu masakan datang. Keadaan di restoran sangat sepi. Hanya ada keluarga saya di sana, padahal ruangan restoran tersebut sangat besar. Ruangan tersebut bisa menampung sekitar 50 hingga 75 orang.

Tak lama, masakan datang. Untuk masakannya sendiri tidaklah buruk. Tapi sayang, tidak ada rasa yang khas yang bisa membuat saya kangen masakan si sana. Oh ya, setelah membayar makanan, harga totalnya pun tidak terlalu mahal. Istilahnya masih bernilai untuk rasa yang diberikan. – at Pasar Ikan Higienis (PIH)

See on Path

Terlalu lempeng?

Lempeng itu dibaca lempeng, bukan dibaca lempeng.

Ya mungkin gitulah apa yang ku rasa saat ini. Kenapa? gampangnya gini, aku banyak ikut grup chat. Baik di Yahoo Messenger, mIRC, Whatsapp, Telegram atau Line. Banyak yang curhat atau gak sengaja curhat tentang yang mereka alami. Reaksi ku? “Wow!!! Gw belum pernah kayak gitu”. Reaksi seperti itu sangat sering banget nget nget kejadian.

Atau gini deh, aku sering blogwalking dan sering “kok bisa sih kepikiran buat nulis kayak gitu?”. Aku mau nulis blog tentang yang aku alami aja susah byanget. Ya, lalu aku tarik kesimpulan, orang-orang bisa nulis kayak gitu karena mereka udah ngalami itu, baik secara langsung maupun gak langsung.

Padahal, umurku udah hampir kepala 3, kok ya pengalamanku masih cetek banget. Mau pengalaman profesi aku, atau pengalaman kehidupan aku. Tapi ya, aku juga gak mau cari perkara demi biar bisa dibilang “berpengalaman”.

Tapi mungkin ini salah satu rejeki buat aku, kehidupan yang lempeng, kehidupan yang selo. Eh, ini selo ya bacanya, bukan selo.

Sugeng Kondur, Mid

avahmd

Iki ki mah dha ngapa?

Mungkin itu kalimat yang akan kamu ucapkan melihat tingkah polah teman-temanmu. Teman-teman yang kehilanganmu. Teman-teman yang kehilangan keceriaanmu. Keceriaanmu yang kita tahu bila sebenarnya Hamid sedang tidak seceria itu. Tapi setidaknya, Hamid membuat orang lain ceria.

Kehilangan Hamid yang gemar memberikan nasehat. Hamid yang gemar mempertemukan orang hebat dengan orang hebat yang lainnya agar menjadi lebih hebat. Hamid yang gemar berbagi ide.

Tapi yang aku pribadi, kehilangan sosok Hamid yang sederhana dan menyenangkan.
Selamat jalan Hamid, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah. Dilapangkan kuburmu. Diampuni dosa-dosamu.

There is two ways a man can be rich. He can be alot of money or friends.

Sudah cukup jelas™, Hamid memilih yang nomer dua.
Sudah cukup jelas™, Hamid juga membuktikan bila dikenal dan terkenal itu berbeda jauh. Hamid yang tidak terkenal tapi dikenal banyak orang.

 

Bersyukur

Ini yang sering aku lupa atau lalai. Bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini. Kesehatan, kehidupan yang baik, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang layak, makanan yang sehat, agama yang aku anut dan yang lainnya. Kenapa aku mendadak nulis kayak gini? Sebenernya udah lama pengen nulis kayak gini. Aku ingin bercerita tentang harus bersyukur terutama terhadap pekerjaan yang dimiliki.

Aku adalah seorang software developer di sebuah Internet Payment Gateway. Perusahaan tempat aku bekerja, saat ini memang butuh banyak tenaga kerja baru efek dari ekspansi yang sedang kami lakukan. Biasanya, kita mencari pegawai dari mulut ke mulut yang artinya “lu lagi lu lagi” saat interview. Akhirnya, kami mengikuti Job Fair yang dilakukan di kampus-kampus terkemuka. Seharusnya HR yang mengikuti acara ini, namun berhubung banyak posisi teknis yang dibuka, maka saya pun mengikuti acara ini.

Seumur hidup, saya baru datang ke acara seperti ini. Acara yang pertama kali saya ikuti adalah acara di UGM. Di sana saya melihat antrian panjang pembelian tiket oleh orang-orang yang hendak masuk ke acara ini. Di dalam gedung? Lebih sumpek lagi. Banyak yang masuk ke booth sekedar bertanya, “Aku lulusan ini, ada gak posisi kayak gini di perusahaan Bapak?” atau “Kira-kira saya bisa apply ke perusahaan Bapak, tapi CV saya tidak lengkap?”. Awalnya saya berfikir, “Ah, ini mah nyasar. Saya mending referensikan ke perusahaan induk saja.”. Namun, ternyata makin banyak yang bertanya seperti itu. Makin lama saya makin berfikir “Duh, andai saja perusahaan saya bekerja menerima lowongan seperti itu.”. Ada juga yang bertanya “apakah ada batasan umur?”. Ada yang menampakan wajah penuh kelegaan saat saya bilang, “sebenarnya di perusahaan kami tidak mengenal batasan umur”. Gimana? Hanya kalimat seperti itu mereka bisa lega?

Ada juga yang bertanya “Apakah baru lulus bisa mendaftar?”, “Apakah IPK sekian bisa mendaftar?”. Makin lama pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya merasa ditampar. Saya selama ini dengan mudah menerima pekerjaan. Saya selama ini tidak pernah menggunakan ijazah sebagai referensi, tinggal melamar lalu diterima. Saya juga bukan termasuk orang yang sangat jago dalam bidang saya. Saya tidak pernah datang ke acara career day atau cari lowongan di koran. Lalu, kenapa saya tidak bersyukur? Kenapa saya tidak bekerja dengan baik? Padahal banyak orang yang susah payah mencari sepotong harapan. Berharap mereka bisa mendapat pekerjaan yang layak.

Lalu, kenapa saya masih juga tidak bisa bersyukur? Astagfirullah.

 

NB: Maaf, saya sering berganti menggunakan “aku” dan “saya”. :P

Oya, saya benci stigma “ah, jadi karyawan sih, mangkanya jadi pengusaha”.