Tentang Bersyukur

Dapat dari ceramah Nouman Ali Khan, di sini.

Sering banget denger ayat Quran tentang bersyukur, terutama Surah Ibrahim 7:14.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Tapi, gimana sih cara bersyukur itu? Apakah cukup dengan Alhamdulillah?

Jawaban pertanyaan tersebut, tentu saja ada dalam Quran. Mari kita simak Surah An-Naml 27:19. Nabi Sulaiman berdoa seperti ini,

Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.

Kenapa kita mengambil contoh dari Nabi Sulaiman? Karena Nabi Sulaiman diberikan power dan wealth melebihi manusia manapun di muka bumi, baik sebelum dia lahir maupun setelah dia mati.

  • Nabi Sulaiman meminta agar selalu diberikan ilham untuk mensyukuri nikmati yang telah diberikan kepadanya dan kedua orang tuanya. Lho, kenapa kedua orang tuanya? Kan dia yang diberikan nikmat yang melimpah? Simple, Nabi Sulaiman bukan siapa-siapa tanpa bimbingan orang tuanya. Jadi saat kita mendapatkan kenikmatan, maka seharusnya kita juga berdoa untuk kedua orang tua kita.

  • Nabi Sulaiman memohon agar tetap bisa mengerjakan kebaikan yang Allah rida. Lho, bukannya kita mengerjakan kebaikan pasti Allah rida? Belum tentu, bisa saja ada unsur riya dalam hati. Bersedekah itu tindakan mulia, tapi bila bersedekah dengan niat riya? Tindakan bagus itu hanya untuk manusia, tapi hanya omong kosong di mata Allah.

  • Nabi Sulaiman memohon dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang shaleh. Ini sudah jelas, bagaimana seseorang bisa menjadi racun untuk orang lain. Apakah kita nyaman saat berada di sekeliling orang yang selalu mengeluh, denial dan playing victim? Saat kita di sekeliling orang saleh, kita akan selalu diingatkan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat, diingatkan untuk selalu menjaga kebenaran dan diingatkan untuk sabar.

Sedang Apa Kamu?

Apa yang sedang aku lakukan?
Kenapa aku menapaki lagi jalan yang gelap?
Menapaki jalan yang terjal, penuh ketidakpastian?

Sekarang, jiwaku tertimbun jutaan gunung yang kelam.
Sesak

Sekarang, sukmaku dikoyak oleh asaku sendiri.
Perih

Apa yang sedang aku lakukan?
Tidak bisakah aku menggenggam butiran pasir putih?
Namun aku tetap memilih untuk menggenggam bara?

Sudah, sudahi

Sebelum semua terlambat, walau lembaran kertas sudah kumal dan lusuh.
Tapi terus berharap, agar Allah memberikan lembaran kertas yang baru.

Agar kisahku, tetap bisa aku tuliskan dengan baik.

Apakabar Dunia?

Apakabar dunia?

Setahun lebih gak update blog. Ya saya hanya mengikuti arus deras saja, rata-rata kan pada males update. Jadi ya saya juga malas. Hehehe

Apa yang sudah terjadi satu tahun ke belakang? Well, saya masih absurd seperti biasanya. Masih butuh temen ngobrol, masih butuh hobi, masih butuh banyak belajar.

Oh ya, tentang hobi, nampaknya beberapa bulan ke depan bakal lebih sering beli sparepart Tamiya daripada sparepart motor yang sebenernya lebih banyak dipake ngantor. Tapi ya gimana lagi, udah kadung gandrung.

Setahun terakhir, banyak hal awesome, naik-turun dan banyak dosa yang telah diperbuat. Nampaknya, hidup saya memang tidak serata papan catur. Banyak hal yang saya tidak bisa ceritakan pada siapapun. Ya, pada dasarnya memang jarang cerita tentang apa yang dirasa ke orang lain saja.

Oh ya, beberapa hari yang lalu saya berulang tahun dan mendapatkan beberapa kejutan. Kejutan terbesar saya adalah saat ini sudah berkepala 3. Sial, setengah jatah normal adalah hal sia-sia belaka.

Satu lagi, saat ini sedang menunggu sebuah keajaiban… Ah, sudahlah Burhan~

Long Lost Thing

Sesuatu ada yang salah, sesuatu ada yang hilang. Sebuah kalimat ini yang menghantui saya akhir-akhir ini. Betapa tidak, apa yang saya lakukan saat ini sepertinya ada yang tidak sesuai dengan kebiasaan saya. Entah, apa itu. Buat saya ini berbahaya, namun saya masih belum bisa mengidentifikasi masalahnya.

Dimulai dengan kebiasaan bangun pagi yang agak rusak, konsentrasi pada pekerjaan saya yang turun. Mood yang sering naik turun. Hingga saya juga sering menunda pulang kantor karena banyak pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.

Hari ini kebetulan cuti, lebih tepatnya salah ambil waktu cuti. Tapi biarlah, saya coba manfaatkan hari ini untuk “Me Time”. Paling ke toko buku, makan di tempat makan favorit, cari mainan buat anak. Ke toko elektronik. Mungkin saya hanya dilanda kebosanan yang teramat sangat. Terlalu berpola.

Semoga hari ini bisa terinspirasi buat punya hobi baru.