Skip to content

Desir Angin di Awal Hari

Hari ini, sungguh hari yang berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Hari yang ternyata tidak pernah aku syukuri, hari-hari bisa dekat dengan keluarga. Saat ku tulis post ini, hanya ada suara desiran angin, burung Tikukur yang bersahutan dan beberapa jenis burung yang aku tidak paham namanya. Hanya ada suara itu saja dan disertain dengan matahari yang sedang sangat berwibawa memancarkan panasnya.

Tenang? Mungkin. Tapi buat ku tidak. Banyak kerinduan yang selama ini aku sia-siakan. Semua berubah menjadi rasa sedih dan sesak di dada. Tanpa jamuan makanan yang selayaknya disuguhkan saat lebaran, tanpa teman bercanda dan berbincang.

Semua hal yang selama ini ternyata aku sia-siakan.

Selama sebulan terakhir, banyak pelajaran berharga yang aku dapat. Teman yang selalu ada saat kita benar-benar merasa kesepian adalah teman yang tidak boleh kamu lupakan. Teman yang memberikan hadiah kecil untukmu sekedar membuat hati menjadi gembira adalah teman yang mesti kamu jaga.

Aku pun bertemu dengan orang yang seperlunya saja, mungkin aku pun cukup seperlunya saja. Baik? Jelas tidak. Tapi sejujurnya, fokusku lebih aku utamakan untuk orang-orang yang pertama-tama aku sebutkan tadi.

Mungkin bertemu juga dengan orang-orang yang mencintaimu, tapi terkadang sering tiada saat kita benar-benar membutuhkan. Terkadang, cukup dengan berbincang beberapa menit bisa melepaskan segala penat yang tidak akan bisa diungkapkan tulisan 1000 halaman.

Ah, lagi-lagi sebuah omong kosong.

Published inRetrospektif

Comments are closed.