Skip to content

Kontemplasi 10 Tahunan

Seperti arus utama kekinian, banyak yang membuat posting tentang perjalanan hidup selama 10 tahun terakhir. Menarik membaca bagaimana alur hidup mereka terjadi, menarik pula untuk menulis alur hidup diriku sendiri. Menarik? Tentu saja tidak, seperti yang sudah-sudah, kehidupan saya cenderung flat. Sleep-Eat-Work-Get Paid-Repeat. Tapi tidak mengapa untuk menuliskan ulang apa yang terjadi 10 tahun ke belakang.

10 tahun yang lalu, aku mulai masuk ke industri yang saya geluti saat ini. Dimulai dari suatu perusahaan servicing kecil. Mulai benar-benar belajar lagi coding. Di sini juga saya sebetulnya sudah tertarik untuk membeli sepeda. Xtrada sudah jadi incaran kala itu, karena salah satu teman kantor ada yang menggunakan sepeda untuk ngantor.

Pada masa-masa ini saya sudah diberikan kenyataan hidup sebagai lelaki paling besar di keluarga dan masih memiliki adik perempuan yang baru kuliah. Ayah-ibu saya ketika itu terkena PHK yang waktunya hampir bersamaan. Tidak ada yang tenang dalam keluarga. Ketika itu pun, saya sedang melanjutkan kuliah ekstensi (sebelumnya saya hanya ambil D3). Di tahun kedua, saya memutuskan untuk resign dari perusahaan pertama ini. Saya harus mencari yang lebih baik agar bisa menunjang keluarga dan kuliah adik.

Sampai saat itu, ada 3 keinginan saya yang belum terpenuhi. Gelar sarjana, sepeda dan Macbook Pro 13″.

Alhamdulillah pada medio 2011 saya mendapatkan pekerjaan yang bisa bekerja dari rumah dan juga penghasilan yang lebih besar dari sebelumnya. Agak aman pikirku. Sebetulnya, saya dapat pekerjaan ini dari teman karib saya. Alhasil, selama beberapa bulan kami bisa bekerja bersama. Tapi kebersamaan itu tidak berlangsung lama, dia resign sekitar 7 bulan setelah bekerja bersama. Saat dia resign, saya merasa kehilangan partner dan juga mentor. Kebodohan saya saat itu adalah terlalu terlena dengan keadaan yang nyaman hingga tidak sadar bahwa saya tidak memiliki kemajuan. Saya tidak memiliki mentor yang bisa membuat saya lebih maju lagi. Saya tidak memiliki kontribusi yang baik pada perusahaan.

Di tahun-tahun ini juga saya harus merelakan gelar sarjana yang saya sudah impikan. Tidak ada waktu yang cukup untuk saya mengurus hal-hal akademik. Waktu itu saya sedang menyelesaikan skripsi (sudah tahap bab III). Tapi saya tidak bisa fokus pada pekerjaan dan kuliah pada saat yang sama.

Pertengahan 2013, saya memutuskan pindah ke perusahaan payment gateway. Veritrans namanya kala itu. Sedikit perubahan saat itu bila dilihat dari package, namun di situ saya menemukan banyak ilmu yang bisa saya pelajari. Oh ya, di situ juga saya mendapatkan pinjaman Macbook, lumayan saya tidak perlu membeli untuk barang ini.

Awal 2014 saya menikah dan Januari 2015 saya dikaruniai seorang anak lelaki. Tahun 2016 adalah tahun yang cukup berkesan buat saya, itu saja yang bisa saya ceritakan. Medio 2017 hingga 2018, saya sering berkunjung ke kantor Jogja. Di situ saya bertemu dengan orang-orang yang gemilang namun ingin tetap berkubur di bawah tanah. Mereka yang menginginkan itu, untuk ketenangan hidup katanya.

Tahun 2018, Midtrans (nama barunya Veritrans) diakuisisi Gojek. Saya pun jadi bagian Gojek secara tidak langsung. Saya pribadi merasa, bila saya harus interview dari awal untuk masuk Gojek saya yakin saya tidak akan bisa masuk.

What’s next?
Satu hal yang saya sadari, selama 1 dekade ini saya minim sekali mendapatkan pengalaman yang cukup baik dari senior. Banyak hal harus saya tempuh sendiri dan itu pun tidak maksimal atau malah bukan jalan yang baik. Karir saya pun mandeg (I don’t care actually, as long as company get good benefit from me and my existence), saya ingin menilai diri saya sebagai seorang senior tapi saya yakin kemampuan saya masih jauh dari itu. Banyak hal yang perlu saya tingkatkan. Tapi saya masih belum yakin dengan caranya, cara yang baik.

Selain itu, badan saya sudah overweight. Teman-teman SMA saya tidak akan mudah mengenali saya yang sekarang. Saya harus lebih konsisten bangun pagi untuk olahraga. Tahun 2019 ini saya mulai bersepeda. Saya ingin menambah teman dari sini, agar bisa berbagi pengalaman hidup. Semoga saya bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Hidup saya mungkin flat dan membosankan, tapi semoga saya bisa lebih baik lagi.

Published inRetrospektif

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *